Site Loader

IMPLEMENTASI STORYTELLING SEBAGAI

STRATEGI PENGEMBANGAN BAHASA PADA ANAK

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A.    
Latar Belakang

Bercerita
merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang masih kurang
mendapat perhatian. Di mana, dalam sistem pendidikan lebih menekankan
pengembangan kemampuan akademik seperti membaca dan berhitung. Kegiatan belajar
mengajar kurang memberikan kesempatan dan pelatihan untuk mengembangkan
kreativitas anak dalam bercerita. Bercerita akan memberikan lahan bagi anak
untuk mengembangkan kreativitas dan apresiasinya. Hal ini penting, karena mengingat
kemampuan menyampaikan informasi dengan baik merupakan salah satu indikator
kemampuan anak dalam berkomunikasi sebagai landangan pembelajaran bahasa.

Bahasa
adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain yang mencakup semua cara untuk
berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang,
gambar, atau lukisan. Melalui bahasa setiap manusia dapat mengenal dirinya,
sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan, karena bahasa menghubungkan
lainnya dengan melalui proses berbahasa yang dapat menyampaikan pesan/maksud
yang ingin disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain akan memahami apa
yang disampaikan. Perkembangan bahasa anak merupakan kemampuan dasar yang harus
dimiliki anak.

Perkembangan
bahasa meliputi juga perkembangan kompetensi komunikasi, yakni kemampuan untuk
menggunakan semua keterampilan berbahasa manusia untuk berekspresi dan
memaknai. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan anak dan lingkungan
sekitarnya. Peran perkembangan bahasa memainkan peranan yang signifikan dalam
perkembangan sosial anak. Perkembangan bahasa anak ditandai dengan anak yang
sudah mampu mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata, anak dapat melakukan peran
sebagai pendengar yang baik, dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan,
kemudian mengikuti dua sampai tiga perintah sekaligus, menggunakan dan dapat
menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan di mana. Fungsi perkembangan bahasa bagi
anak yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan, sebagai alat
untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, sebagai alat untuk
mengembangkan ekspresi anak, dan sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan
buah pikiran kepada orang lain.

Bercerita
mampu menjadi salah satu faktor bagi pengembangan bahasa anak. Karena dengan
mengoptimalkan kemampuan berbahasa anak dengan bercerita, memungkinkan
terjadinya komunikasi. Sehingga anak mampu menyatakan keinginan serta
pendapatnya. Dengan demikian, diperlukan kemampuan pendidik yang mampu
membangun kemampuan berbahasa anak. Berdasarkan permasalah yang terjadi,
peneliti akan melakukan sebuah penelitian dengan judul “Implementasi
Storytelling sebagai Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak”.

 

B.     Tujuan

Tujuan
dari paper ini yaitu untuk mengetahui manfaat cerita untuk anak, mengetahui
media bercerita yang digunakan sebagai pengembangan bahasa pada anak, mengetahui
tahap pelaksanaan storytelling, dan mengetahui penerapan storytelling
dalam mengembangkan bahasa anak. Sehingga dari tujuan tersebut, diharapkan
dapat mengembangkan bahasa pada anak.

 

C.     Metode Penelitian

Metode
penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif,
karena dalam penelitian ini hanya mengungkapkan fakta kemudian menjelaskan
secara deskriptif tentang fakta yang bersangkutan. Sehingga dalam penelitian
ini melibatkan informan yaitu guru Sekolah Dasar (SD) dan tiga orang siswa. Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melakukan wawancara kepada guru
dan melakukan observasi. Hasil dari wawancara tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya untuk dianalisa.

 

D.     Hasil dan Pembahasan

1.     
Pembahasan

a.     
Storytelling

Cerita adalah
uraian, gambaran, atau deskripsi tentang peristiwa atau kejadian tertentu. Storytelling
(bercerita) merupakan aktivitas menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang
perbuatan, pengalaman, atau kejadian yang sungguh-sungguh terjadi maupun hasil
rekaan. Bercerita dikatakan sebagai menuturkan, yaitu menyampaikan gambaran
atau deskripsi tentang kejadian tertentu. Artinya, bercerita merupakan kegiatan
mendeskripsikan pengalaman atau kejadian yang telah dialaminya.

Bercerita juga
merupakan proses kreatif anak-anak. Dalam proses perkembangannya, cerita tidak
hanya mengaktifkan aspek-aspek intelektual tetapi juga aspek kepekaan,
kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dan imajinasi, yang tidak hanya
mengutamakan otak kiri saja. Cerita menawarkan kesempatan kepada anak untuk
menginterpretasikan pengalaman langsung yang dialami anak. Bercerita mampu
menolong kemampuan sosial anak. Bercerita secara lisan mendukung anak-anak
untuk mengembangkan bahasa, belajar membaca, memahami pengetahuan dunia, dan
menjadikan sosial-emosi baik. Selain itu, bercerita juga merupakan kegiatan
yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa
alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi, atau
dongeng untuk didengarkan dengan rasa yang menyenangkan. Kegiatan bercerita
melibatkan pendengaran, penglihatan, berbicara, dan ekspresi yang dibutuhkan
ketika bercerita. Kegiatan bercerita memberikan informasi kepada anak baik
secara lisan, tulisan, maupun akting tentang nilai maupun tradisi budaya yang
telah dipercaya melalui penggunaan alat peraga maupun tidak.1

 

b.     
Manfaat cerita
untuk anak

Cerita sangat
bermanfaat bagi pengembangan anak. Adapun manfaat dari cerita untuk anak yaitu
sebagai berikut:

1)     
Membantu pembentukan pribadi dan
moral anak. Cerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral anak. Melalui
cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada masyarakat.

2)     
Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan
fantasi. Cerita dapat dijadikan sebagai media menyalurkan imajinasi dan fantasi
anak. Pada saat menyimak cerita, imajinasi anak mulai dirangsang. Imajinasi
yang dibangun anak pada saat menyimak cerita memberikan pengaruh positif
terhadap kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah secara kreatif.

3)     
Memacu kemampuan verbal anak. Cerita
dapat memacu kecerdasan linguistik anak. Cerita mendorong anak bukan saja
senang menyimak cerita, tetapi juga senang bercerita atau berbicara. Dengan
demikian, anak belajar tata cara berdialog dan bernarasi.2

 

c.      
Media bercerita
sebagai pengembangan bahasa pada anak

1)     
Media Big Book

Big book adalah buku
bergambar yang dipilih untuk dibesarkan memiliki karakteristik khusus, yaitu
adanya pembesaran baik teks maupun gambarnya. Hal ini sengaja dilakukan supaya
terjadi kegiatan membaca bersama (shared reading) antara guru dan murid
atau orangtua bersama anak. Buku ini mempunyai karakteristik khusus yang penuh
warna-warni, gambar yang menarik, mempunyai kata yang dapat diulang-ulang,
mempunyai plot yang mudah ditebak, dan memiliki pola teks yang berirama untuk
dapat dinyanyikan. Dengan menggunakan media big book dapat mengembangkan
semua aspek bahasa termasuk kemampuan literasi pada anak yang mencakup dengar,
cakap, baca, dan tulis.

Media big
book dapat mengubah mental fisik siswa dalam belajar berbahasa sehingga anak
lebih bersemangat dan dirasa lebih mudah. Media ini dapat dibuat sesuai
kebutuhan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak. Media bercerita
dalam bentuk konkret dapat membantu untuk mengembangkan kemampuan pengungkapan
bahasa pada anak.

2)     
Media Boneka Jari

Boneka jari (finger
puppet) adalah sebuah media yang sangat berguna untuk memperkenalkan
binatang-binatang kepada anak. Selain itu, bisa juga digunakan sebagai alat
peraga bercerita bagi anak. Sebuah cerita/dongeng yang disampaikan dengan cara
yang menarik tentu akan lebih memikat anak-anak. Permainan boneka jari akan
sangat menyenangkan dan menarik perhatian anak dalam belajar ataupun kegiatan
lainnya. Dengan demikian, media boneka jari akan membuat anak lebih bersemangat
dalam belajar karena menggunakan prinsip belajar sambil bermain.

Cara penyajian
boneka jari sebagai media pembelajaran tergantung pada kreativitas guru yang
juga disesuaikan dengan kompetensi dasar yang harus dicapai. Tujuan
pembelajaran lewat permainan menggunakan media boneka jari agar anak menjadi
kebih aktif, sehingga pembelajaran kegiatan untuk meningkatkan keterampilan
berbahasa pada anak akan lebih efektif dan tepat sasaran.

3)     
Media Boneka Tangan

Media boneka
tangan adalah boneka yang dijadikan media atau alat bantu yang digunakan dalam
kegiatan pembelajaran. Jenis boneka yang digunakan adalah boneka tangan yang
terbuat dari potongan kain. Boneka tangan ini ukurannya lebih besar daripada
boneka jari dan dapat dimasukkan ke dalam tangan. Untuk keperluan media
pembelajaran, boneka tangan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan
kebutuhan anak. Agar menarik dan bermakna, karakter boneka yang digunakan
biasanya karakter boneka yang dekat dengan dunia anak, seperti ayah, ibu, anak
laki-laki, anak perempuan, kakek, nenek, dan lain-lain. Boneka tangan dapat
digunakan sebagai media pembelajaran yang menarik bagi anak, karena sangat
efektif untuk membantu anak belajar berbahasa.

4)     
Media Celemek Cerita

Bercerita
dengan celemek cerita merupakan salah satu metode guna menarik minat anak untuk
mau mendengarkan cerita dan memperhatikan isi cerita melalui sebuah media
sederhana yang menarik berupa celemek yang digunakan ditempel di dada guna
menunjang penyampaian isi cerita. Dengan media celemek cerita yang bersifat mobile
diharapkan dapat membuat anak lebih tertarik pada cerita yang dibawakan
guru dan pendidik berhasil menyampaikan isi cerita yang ingin disampaikan.
Media celemek cerita mempunyai fungsi sebagai alat bantu visual bagi anak,
sehingga anak lebih dapat termotivasi, memperjelas konsep abstrak, dan
mempertinggi daya serap anak. Anak dapat mengungkapkan berbagai gagasan menurut
gambar yang dilihatnya, mampu mengembangkan kemampuan berbahasa anak dengan
melatih berkomunikasi secara lisan.

5)     
Gambar Lepas

Gambar lepas
adalah kumpulan beberapa buah gambar yang berurutan yang berdiri sendiri
(berupa lembaran-lembaran besar). Ringkasan cerita dituliskan pada belakang
gambar. Media gambar lepas memungkinkan anak bervisualisasi bahkan lebih dari
yang mereka lihat pada gambar tersebut. Gambar lepas juga memudahkan anak untuk
mengeksplorasi ceritanya lebih jauh mulai dari pengalaman yang terjadi sampai
menciptakan imajinasi. Gambar lepas dapat menyederhanakan informasi yang sulit
dimengerti. Media gambar lepas merupakan media berupa gambar-gambar tanpa
disertai dengan suara. Anak-anak memiliki kemampuan berpikir, bernalar, dan
perkembangan bahasa yang memerlukan gambar-gambar atau simbol-simbol.

6)     
Media Gambar Seri

Media gambar
seri yaitu urutan gambar yang mengikuti suatu percakapan dalam hal
mamperkenalkan atau menyajikan arti yang terdapat pada gambar. Dikatakan gambar
seri karena gambar satu dengan gambar lainnya memiliki hubungan keruntutan
peristiwa. Media gambar seri tersusun dari kertas lebar memanjang yang berisi
beberapa buah gambar. Media gambar seri cocok untuk melatih keterampilan
berbahasa serta keterampilan ekspresi (berbicara, bercerita). Bahasa gambar dan
bahasa kata mempunyai hubungan yang erat bagi perkembangan bahasa dan membaca
pada anak.3

 

d.     
Tahap
pelaksanaan storytelling

Agar cerita menjadi lebih menarik bagi anak, maka diperlukan
persiapan yang mencakup pemilihan materi cerita, pengelolaan kelas untuk
bercerita, pengelolaan tempat duduk dan ruang bercerita, dan strategi
penyampaian cerita. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1)     
Pemilihan materi cerita

Cerita tentang
pengalaman anak dan faktor tradisional merupakan sumber cerita terbaik bagi
anak-anak. Ada beberapa kategori cerita yang dapat digolongkan, yakni cerita
untuk program inti, cerita untuk program pembuka, dan cerita untuk tujuan
rekreasi pada akhir program. Cerita untuk program inti, yang digunakan dalam
kegiatan inti cerita ini, disampaikan oleh guru sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Misalnya cerita tentang bebek si buruk rupa.
Cerita ini menggambarkan seekor bebek yang buruk rupanya, namun hatinya baik
dan suka menolong. Dari cerita ini, tujuan pembelajaran yang ingin ditanamkan
guru yaitu menanamkan rasa saling tolong-menolong dan tidak membeda-bedakan
teman. Cerita untuk program pembuka dan penutup, disampaikan pada kegiatan inti
dan penutup. Yang menyampaikan adalah anak, sedangkan guru hanya memberikan
stimulasi. Misalnya, anak bercerita mengenai pengalamannya sehari-hari dalam
berbagai hal yang dilakukan. Adapun cerita untuk tujuan rekreasi disampaikan
pada akhir program. Cerita ini disampaikan oleh anak setelah anak melakukan
liburan akhir minggunya.

2)     
Pengelolaan kelas untuk bercerita

Pengelolaan
kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas. Pengelolaan kelas
harus dilakukan dengan baik oleh guru. Adapun aspek-aspek pengelolaan kelas
yaitu: a) pengorganisasian siswa yang merupakan bentuk pengelompokkan anak-anak
yang akan dilibatkan atau diajak berinteraksi dalam penceritaan. b) penugasan
kelas dalam kegiatan bercerita, penugasan kelas dapat dilakukan dengan meminta
anak mengingat tokoh utama dalam cerita dan menceritakan kembali cerita yang
telah disampaikan sebelumnya. c) disiplin kelas dalam kegiatan bercerita,
bentuk-bentuk disiplin kelas tentu harus disesuaikan dengan karakteristik anak.
Dalam melakukan penceritaan, guru tetap harus menenangkan muridnya unruk
mendengarkan pesan melalui ceritanya. Proses menenangkan perlu dilakukan dengan
cara mendidik, tidak disertai dengan ancaman dan dilakukan dengan menarik
perhatian mereka melalui cerita yang disajikan sehingga tidak membuat anak
sibuk sendiri. d) pembimbingan siswa, dalam kegiatan bercerita bimbingan yang
diperlukan dapat berbentuk pemberian informasi sejelas-jelasnya tentang proses
dan tujuan cerita yang akan disampaikan.

3)     
Pengelolaan tempat duduk dan ruang
bercerita

Pengelolaan
tempat untuk bercerita dimulai dengan penataan tempat untuk bercerita.
Desainlah tempat dengan nyaman dan kondusif, agar kegiatan bercerita dapat
berjalan dengan baik. Atur agar media yang digunakan mudah dijangkau oleh anak
dan tidak mengganggu proses kegiatan bercerita. Selain itu, dibutuhkan juga
penataan runag bercerita. Jika kegiatan bercerita dilakukan di dalam ruangan kelas,
maka ventilasi, tata cahaya, dan tata warna perlu diperhatikan. Namun, jika
kegiatan bercerita dilakukan di luar kelas, dibutuhkan kesesuaian terhadap
tuntutan cerita, keamanan, dan kenyamanan.

4)     
Strategi penyampaian cerita

Strategi
penyampaian cerita dapat untuk melatih dan membentuk anak agar lebih percaya
diri, mahir berbicara, pengembangan daya nalar, dan pengembangan imajinasi
anak.4

 

e.      
Penerapan storytelling
dalam mengembangkan bahasa anak

Menikmati
sebuah cerita mulai tumbuh pada seorang anak semenjak anak mengerti akan
peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan setelah memorinya mampu merekam
beberapa kabar berita. Adapun penerapan storytelling dalam mengembangkan
bahasa anak yaitu: 1) anak mampu menggunakan kata ganti saya dalam
berkomunikasi, 2) memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat,
keadaan, kata tanya, dan kata sambung, 3) menunjukkan pengertian dan pemahaman
tentang sesuatu, 4) mampu menggunakan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan
menggunakan kalimat sederhana, dan 5) mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu
melalui gambar.

 

2.     
Hasil

Hasil dari
observasi menunjukkan bahwa storytelling dapat menjadi inovasi dalam
meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Selain itu, hasil analisis data
observasi menyatakan bahwa pengembangan cerita dapat dilakukan oleh guru yang
bersangkutan dengan mengacu pada topik yang tercantum pada silabus mata
pelajaran. Cerita yang dikembangkan oleh guru cenderung lebih mudah dimengerti
oleh siswa, sehingga mereka dengan mudah mengingat kosakata dan menyusun
beberapa kosakata atau frase dalam kalimat yang sederhana. Adapun hasil
wawancara terhadap tiga orang siswa menunjukkan bahwa siswa senang dengan
metode storytelling, karena suasana kelas lebih kondusif dengan
aktivitas beragam dan asyik. Menurut mereka, dengan teknik ini mereka lebih
mudah mengenal kosakata baru, arti dan maknanya karena kosakata tersebut
diucapkan berulang-ulang oleh gurunya selama bercerita. Sedangkan, hasil
analisis data dari wawancara terhadap guru, menunjukkan bahwa metode bercerita
pada dasarnya disenangi siswa dan tampak lebih efektif daripada metode lainnya,
karena siswa dapat belajar lebih banyak kosakata baru dengan mudah karena
kata-kata tersebut diucapkan berulang-ulang dengan ekspresif. Oleh karena itu,
guru tampaknya tidak perlu lagi menerangkan arti kosakata satu-persatu terpisah
dengan konteks da nisi ceritanya. Namun, hasil analisis data dari wawancara
guru menerangkan bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan
cerita, di antaranya: a) kesulitan mencari bahan cerita yang sesuai untuk anak,
b) kesulitan guru dalam menjiwai cerita lewat suara, mimik, dan gerakan tubuh,
c) jam pelajaran yang tersedia sangat terbatas, dan d) target pencapaian materi
yang sudah diatur dalam kurikulum dan silabus membuat guru kurang leluasa dalam
menerapkan strategi pengajaran dengan storytelling.

 

E.     Simpulan dan Saran

1.     
Simpulan

Bercerita
merupakan kegiatan yang bermakna dalam kaitannya dengan perkembangan anak.
Manfaat bercerita bagi anak yaitu dapat membantu pembentukan pribadi dan moral
anak, karena melalui cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang ada
di masyarakat. Selain itu, anak juga dapat menyalurkan kebutuhan imajinasi dan
fantasinya, karena dengan menyimak pada saat bercerita, imajinasi dan
fantasinya mulai terangsang. Anak juga mampu memacu kemampuan verbalnya, karena
cerita mendorong anak bukan hanya senang menyimak, melainkan membuat anak juga
senang bercerita atau berbicara. Terdapat berbagai media yang digunakan untuk
bercerita sebagai pengembangan bahasa anak, seperti media buku bergambar big
book, media boneka jari, media boneka tangan, media celemek cerita, media
gambar lepas, dan media gambar seri. Agar cerita yang disampaikan terlihat
lebih menarik, maka diperlukan tahapan dalam bercerita yang mencakup pemilihan
materi cerita, pengelolaan kelas untuk bercerita, pengelolaan tempat duduk dan
ruang bercerita, dan strategi penyampaian cerita. Kegiatan bercerita ini
menjadikan bahasa anak berkembang. Adapun penerapan storytelling dalam
mengembangkan bahasa anak yaitu menjadikan anak mampu menggunakan kata ganti
saya dalam berkomunikasi, anak juga memiliki perbendaharaan kata, anak pun
mampu menunjukkan pengertian dan pemahaman akan sesuatu, anak dapat menggunakan
kata secara sederhana dan mampu mengungkapkan sesuatu melalui gambar.

 

2.     
Saran

Diharapkan
dalam penerapan storytelling (bercerita) guru lebih mampu menyediakan
sarana dan prasarana untuk kegiatan bercerita dan meningkatkan kemampuan
kompetensi dalam bercerita melalui pelatihan agar lebih mampu menjiwai cerita. Selain
itu, guru juga harus mampu mengatur waktu dalam kegiatan bercerita, agar jam
pelajaran yang telah disediakan dapat terpenuhi secara baik. Dan diharapkan
dengan penerapan storytelling, siswa mampu mengembangkan bahasanya
semakin luas dan kosakatanya semakin bertambah.

1 Aprianti
Yofita Rahayu, Anak Usia TK: Menumbuhkan Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan
Bercerita (Jakarta: Indeks, 2013), 80.

2 Lilis
Madyawati, Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak (Jakarta: Kencana,
2016), 167.

3 Lilis
Madyawati, 213.

4 Aprianti
Yofita Rahayu, Anak Usia TK: Menumbuhkan Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan
Bercerita, 102.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Rhonda!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out